Dolar Tembus Rp18.095, Warga Purwakarta Rasakan Dampak Berbeda
Sejumlah wilayah di Purwakarta seperti Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, dan Darangdan memiliki komoditas unggulan yang terhubung dengan pasar global, antara lain kopi, pala, dan cengkeh. Ketika dolar menguat, nilai penjualan komoditas tersebut dalam rupiah ikut meningkat.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.095 terhadap rupiah mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat Purwakarta. Meski memicu kekhawatiran di sektor ekonomi nasional, kondisi tersebut ternyata membawa pengaruh yang berbeda bagi warga, tergantung pada sumber penghasilan dan jenis usaha yang dijalankan.
Dosen Manajemen Investasi STIE Wikara Purwakarta, Eddy Junaedy, mengatakan pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Sejumlah kelompok masyarakat justru berpotensi memperoleh keuntungan, terutama mereka yang memiliki keterkaitan dengan pasar ekspor maupun penerimaan devisa dari luar negeri.
"Kalau bagi keluarga PMI atau yang dulu dikenal sebagai keluarga TKW, kemudian petani komoditas ekspor di Purwakarta, kenaikan dolar ini justru menjadi berkah," kata Eddy kepada wartawan, Sabtu (6/9).
Menurutnya, sejumlah wilayah di Purwakarta seperti Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, dan Darangdan memiliki komoditas unggulan yang terhubung dengan pasar global, antara lain kopi, pala, dan cengkeh. Ketika dolar menguat, nilai penjualan komoditas tersebut dalam rupiah ikut meningkat.
"Komoditas ekspor yang harganya mengikuti pasar global akan mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah. Nilai hasil penjualan mereka dalam rupiah menjadi lebih besar," ujarnya.
Selain petani, keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga menjadi kelompok yang diuntungkan. Kiriman uang dari luar negeri akan memiliki nilai tukar lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah, sehingga daya beli keluarga penerima remitansi ikut meningkat.
Eddy menilai peningkatan pendapatan petani dan keluarga PMI berpotensi mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal. Dampaknya dapat dirasakan oleh pedagang pasar, toko ritel, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Dengan bertambahnya pendapatan petani dan keluarga PMI, konsumsi masyarakat akan meningkat. Efeknya bisa dirasakan oleh pasar tradisional, toko ritel, hingga pelaku UMKM karena uang yang beredar di masyarakat menjadi lebih banyak," jelasnya.
Namun, di sisi lain, penguatan dolar juga berpotensi menekan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan harga barang impor dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi margin keuntungan usaha.
Karena itu, Eddy mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar memanfaatkan momentum tersebut secara bijak. Ia mendorong keuntungan yang diperoleh dari penguatan dolar tidak hanya digunakan untuk konsumsi, tetapi juga dialokasikan untuk investasi produktif.
"Sebaiknya sebagian keuntungan dialokasikan untuk investasi, seperti peningkatan teknologi pascapanen, perbaikan kualitas produk, atau efisiensi produksi. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan lebih panjang ketika nilai tukar kembali normal," katanya.
Terkait kondisi ekonomi nasional, Eddy menilai Indonesia masih memiliki ruang yang cukup aman dalam jangka pendek meski tekanan terhadap rupiah terus berlangsung.
"Ekspor kita masih lebih besar dibanding impor. Kekhawatiran soal terkurasnya cadangan devisa memang ada, tetapi untuk tiga bulan ke depan saya kira masih aman. Yang perlu diwaspadai adalah kondisi pada bulan keempat atau kelima jika tekanan ini terus berlanjut," pungkasnya.
Berdasarkan perkembangan pasar keuangan terbaru, dolar AS berada di kisaran Rp18.095 per dolar AS. Nilai tersebut menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah perdagangan rupiah dan membawa dampak yang berbeda bagi masyarakat, mulai dari peluang bagi sektor ekspor hingga tantangan bagi usaha yang bergantung pada impor.
Purwakarta News