BPBD Purwakarta Siaga Hadapi Kemarau 2026, Warga Diminta Waspadai Kekeringan dan Karhutla

Musim kemarau tahun ini berpotensi memicu sejumlah bencana hidrometeorologi kering

BPBD Purwakarta Siaga Hadapi Kemarau 2026, Warga Diminta Waspadai Kekeringan dan Karhutla
BPBD Purwakarta Siaga Hadapi Kemarau 2026, Warga Diminta Waspadai Kekeringan dan Karhutla / BPBD Purwakarta

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang mulai melanda wilayah tersebut. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Oktober 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purwakarta, Heryadi Erlan, mengatakan musim kemarau tahun ini berpotensi memicu sejumlah bencana hidrometeorologi kering, seperti kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Yang perlu diantisipasi saat musim kemarau adalah kekeringan, kekurangan air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan," kata Heryadi, Kamis (11/6/2026).

Selain itu, masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi meski memasuki musim kemarau. Angin kencang, puting beliung, dan pohon tumbang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Menurut Heryadi, beberapa kecamatan di Purwakarta memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap kekeringan, di antaranya Kecamatan Bungursari, Campaka, Cibatu, Purwakarta, Babakancikao, Sukatani, serta sejumlah desa di Kecamatan Pasawahan.

Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian khusus BPBD karena berpotensi mengalami kesulitan pasokan air bersih saat puncak kemarau.

"Hasil prediksi BMKG menunjukkan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Oktober. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi berbagai potensi bencana yang mungkin muncul selama periode tersebut," ujarnya.

Menghadapi kondisi itu, BPBD Purwakarta telah melakukan berbagai langkah mitigasi dan kesiapsiagaan melalui koordinasi dengan perangkat daerah, instansi terkait, pemerintah kecamatan, hingga pemerintah desa dan kelurahan.

Sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar warga memahami langkah-langkah pencegahan dan penanganan risiko bencana selama musim kemarau.

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan menghindari pembakaran lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan hutan.

"Kami mengajak masyarakat menghemat penggunaan air dan tidak melakukan pembakaran lahan tanpa pengawasan karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas," kata Heryadi.

Ia menambahkan, musim kemarau juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian akibat berkurangnya ketersediaan air. Karena itu, petani disarankan menyesuaikan pola tanam dan mempertimbangkan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi minim air.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Purwakarta membuka layanan pengaduan melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) di nomor 0811-9937-117.

"Kami akan berupaya semaksimal mungkin membantu masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih. BPBD juga terus berkoordinasi dengan PDAM, dinas terkait, perusahaan penyedia air minum, serta sejumlah perusahaan di kawasan industri untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih warga selama musim kemarau," pungkasnya.