SUBANG – Semangat merayakan Idulfitri di kampung halaman memicu kreativitas sekaligus kenekatan bagi sebagian masyarakat. Pantauan di jalur mudik Lebaran 2026 menunjukkan fenomena unik sekaligus berisiko: penggunaan mobil pikap terbuka yang dimodifikasi menjadi kendaraan angkutan keluarga.
Demi menyiasati tingginya biaya transportasi, sejumlah warga memilih memodifikasi bak belakang mobil pikap menggunakan rangka bambu dan besi yang dilapisi terpal. Ruang terbuka tersebut disulap menjadi area berteduh darurat untuk melindungi penumpang dari sengatan matahari, guyuran hujan, hingga terpaan angin malam selama perjalanan jauh.
Kondisi di dalam bak pikap terpantau sangat padat. Para penumpang harus duduk berhimpitan dengan tumpukan barang bawaan, mulai dari koper, tas pakaian, bingkisan Lebaran, hingga barang elektronik. Bahkan, tidak jarang pemudik turut membawa hewan peliharaan beserta sangkarnya dalam perjalanan tersebut.
Joko, seorang pemudik asal Bekasi yang ditemui di Rest Area KM 102 Tol Cipali, Subang, pada Selasa (17/3/2026) malam, mengaku langkah ini diambil demi efisiensi. Ia memboyong lima anggota keluarga menuju Semarang menggunakan pikap yang telah dipersiapkan khusus.
“Kami desain menggunakan rangka bambu dan besi agar muat banyak. Rencananya sepuluh hari di kampung. Estimasi perjalanan sekitar sepuluh jam jika lancar,” tutur Joko.
Fenomena ini menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menjalani tradisi tahunan ini. Selain pikap, kendaraan non-penumpang lain seperti truk, angkot, hingga bajaj masih terlihat melintasi jalur mudik utama.*


Tinggalkan Balasan