Salut! Angkat topi setinggi-tingginya untuk jajaran Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Di saat rakyat baru saja bangun dari euforia tahun baru, lebaran dan sibuk menambal genteng bocor akibat musim hujan awal tahun, para ksatria birokrasi di Pemkab Purwakarta sudah tancap gas ber-Ngebel (Ngebet Belanja).
Berdasarkan data yang disadur dari data.inaproc.id per Maret 2026 (catat, baru Maret) realisasi pengadaan barang dan jasa Pemkab Purwakarta sudah tembus angka fantastis: Rp48,41 miliar!
Ini bukan sekadar angka, ini adalah simbol kecepatan cahaya. Bayangkan, dalam tiga bulan pertama, di mana naga-naganya APBD daerah lain masih “anget-anget kuku” alias masih rapat ini-itu, Purwakarta sudah berhasil menggelontorkan puluhan miliar.
Ini sungguh mencerminkan komitmen Pemda yang sangat “gas pol, rem blong” dalam mengakselerasi pembangunan (penyerapan anggaran) sejak fajar menyingsing di tahun 2026.
Dengan total 297 paket yang dikelola, rata-rata nilai per paketnya “hanya” sekitar Rp163 juta. Sungguh sebuah strategi yang brilian untuk merangkul kaum jelata, eh, maksudnya Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Lewat jalur sakti Pengadaan Langsung dan E-Katalog, proyek-proyek ini dibagikan bak takjil di bulan Ramadan. Cepat, ringkas, dan insya Allah tepat sasaran (sasaran siapa, itu urusan nanti).
Pemujaan Tiada Henti pada Sektor Semen dan Beton
Sudah bisa ditebak, jawara penguras anggaran tahun ini jatuh kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR). Dinas favorit para kontraktor ini sukses mengamankan posisi puncak dengan serapan Rp14,46 miliar.
Tampaknya, jargon “Imah alus, jalan mulus, rakyat kaurus” diterjemahkan secara harfiah sebagai “membangun jalan tol menuju hati rakyat (dan dompet pemborong)”.
Tak mau kalah, posisi runner-up diisi oleh Sekretariat Daerah dengan realisasi Rp8,70 miliar. Tentu saja, operasional para petinggi daerah harus berjalan mulus sekilat sutra demi memikirkan nasib rakyat yang masih berjuang melawan genangan air dan sulitnya ketersediaan gas melon.
Diikuti ketat oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman sebesar Rp6,35 miliar. Siapa tahu, tahun ini semua kawasan kumuh akan disulap menjadi estetik berkat anggaran tersebut.
Sektor pendidikan pun ikut kecipratan nira anggaran, di mana Dinas Pendidikan mencatatkan angka Rp4,27 miliar, dan Dinas Komunikasi dan Informatika sebesar Rp2,85 miliar. Semoga saja anggaran Kominfo ini bukan untuk bikin aplikasi baru yang bakal usang dalam tiga bulan.
Pesta Pora Rezim Konsultan
Jika Anda melihat daftar paketnya, Anda akan terpukau oleh dominasi kategori “Jasa Konsultansi”. Sepertinya, Purwakarta tahun 2026 sedang dilanda demam “Berpikir Sebelum Bertindak” yang sangat akut.
Tercatat ada 67 paket Jasa Konsultansi Perorangan Konstruksi dan 44 paket Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi. Ini tandanya, tahap perencanaan teknis sedang berjalan sangat masif.
Mari kita bedah kejeniusan alokasi anggaran untuk “kaum mikir” ini:
Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi: Rp 5,09 miliar (Mungkin untuk uang muka untuk narasumber ahli). Jasa Konsultansi Perorangan Konstruksi: Rp 1,90 miliar (Yah, untuk honor para ahli gambar lah), Jasa Konsultansi Badan Usaha Non Konstruksi: Rp 662,29 juta (Untuk rapat-rapat penting di hotel, mungkin yang berbintang) dan Jasa Konsultansi Perorangan Non Konstruksi: Rp 592,39 juta (Nah, yang ini sepertinya untuk uang jajan tambahan para ‘staf ahli’).
Total jenderal miliaran rupiah dihabiskan hanya untuk ngomongin, ngagambar, dan nyeminarkan proyek yang fisiknya belum tentu kelihatan batang hidungnya tahun ini. Tapi hei, setidaknya hotel-hotel di Purwakarta penuh dengan agenda rapat koordinasi (rakor) yang penuh kopi istirahat (coffee break) berkualitas!
Yang paling mencengangkan dari laporan ini adalah kinerjanya yang melampaui batas kewajaran manusia biasa. Baru bulan Maret, tapi kinerja pengadaan sudah menunjukkan tren “sangat positif”.
Sebanyak 72,7 persen atau sekitar 216 paket dinyatakan sudah selesai. Bayangkan, triwulan pertama baru akan berakhir, ratusan proyek sudah kelar. Ini kerja pakai jin atau pakai sistem kebut semalam ala Bandung Bondowoso? Entahlah. Sementara itu, sisanya 25,3 persen atau 75 paket masih dalam proses berjalan.
Kita hanya bisa berharap, kecepatan cahaya dalam menghabiskan anggaran ini berbanding lurus dengan kualitas pekerjaannya. Jangan sampai di bulan Maret laporan serapan anggaran sudah cukup besar, tapi di bulan April aspal jalan sudah mengelupas seperti kulit udang, atau gedung baru sudah retak-retak di sana-sini.
Tapi ah, ya sudahlah. Yang penting, Purwakarta Berprestasi! Anggaran terserap, laporan wajar tanpa pengecualian, perkara manfaatnya terasa atau tidak oleh rakyat, itu urusan panitia hari kiamat. Mari kita beri tepuk tangan meriah!
(Tim Redaksi)

Tinggalkan Balasan