Kembali ke rutinitas normal setelah masa libur panjang Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momen yang penuh semangat. Namun, bagi warga Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, awal minggu ini justru diwarnai dengan kepanikan dan keluhan yang tak berkesudahan.
Pasca Lebaran, warga di wilayah tersebut kini “menjerit” akibat krisis pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram atau yang lebih dikenal dengan sebutan gas melon.
Kelangkaan ini bukan sekadar isu sementara, melainkan telah menjadi momok yang menghantui masyarakat selama empat hari berturut-turut. Stok yang seharusnya tersedia melimpah di pangkalan resmi maupun pengecer, kini lenyap tak berbekas, meninggalkan keresahan mendalam, terutama di kalangan ibu rumah tangga yang sangat bergantung pada energi ini untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga, Siti, menceritakan betapa sulitnya kondisi yang ia dan tetangganya alami saat ini. Bagi ibu rumah tangga, dapur adalah jantung rumah tangga. Namun, kini jantung itu nyaris berhenti berdetak karena tidak adanya bahan bakar.
“Kami untuk masak susah sekali, sampai hari ini kami terpaksa menggunakan kayu bakar. Di warung dan pangkalan gas benar-benar tidak ada stok sama sekali,” ujar Siti, Rabu (25/03/2026).
Keterpaksaan untuk kembali menggunakan kayu bakar tentu saja bukan hal mudah. Selain memakan waktu lebih lama, asap yang dihasilkan juga mengganggu kenyamanan. Namun, apa daya, kebutuhan untuk memasak nasi dan lauk pauk bagi keluarga tidak bisa ditunda. Situasi ini memaksa warga untuk beradaptasi dengan cara-cara tradisional yang sudah jarang digunakan di era modern ini.
Ironisnya, dampak dari kelangkaan ini bahkan menyentuh sisa-sisa kenikmatan Hari Raya. Siti mengaku, banyak makanan khas Lebaran atau yang dalam bahasa setempat disebut “bibiye” yang tersisa, namun tidak bisa dinikmati kembali karena tidak bisa dipanaskan.
“Abdi gaduh bibiye kakaren lebaran teu bisa dihaneutkeun, karena gak ada gas,” tambahnya, yang bermakna “Saya punya sisa makanan lebaran juga tidak bisa dipanaskan karena tidak ada gas.” Kalimat sederhana ini menggambarkan betapa parahnya gangguan yang terjadi pada kehidupan domestik warga.
Selain masalah kelangkaan gas melon, warga juga dihadapkan pada realitas pahit lainnya: lonjakan harga yang sangat drastis. Meskipun stok langka, di beberapa titik penjual eceran yang masih menyimpan stok dengan cara “ditimbun” atau dijual di luar jalur resmi, membanderol harga gas melon dengan angka yang sangat tidak masuk akal.
Pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk gas 3 kg ini berada di kisaran Rp19.000 per tabung. Namun, realita di lapangan Kecamatan Maniis sangat jauh berbeda. Saat ini, harga jual di tingkat pengecer bisa menembus angka Rp30.000 per tabung.
Kenaikan hampir 60 persen dari harga normal ini tentu sangat mencekik. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, harga tersebut terasa sangat memberatkan. Mereka kini terjepit di antara dua pilihan sulit: membeli dengan harga selangit atau tidak memasak sama sekali.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai distribusi dan pengawasan, di mana barang bersubsidi yang seharusnya murah dan mudah diakses justru menjadi barang mewah dan sulit didapat.
Kondisi yang semakin mendesak ini membuat warga tidak bisa lagi berdiam diri. Mereka berharap ada intervensi cepat dari pihak berwenang. Harapan terbesar kini tertuju pada Pemerintah Kabupaten Purwakarta, khususnya Bupati Purwakarta, untuk segera turun tangan langsung mengecek situasi di lapangan.
Masyarakat meminta agar dilakukan pengecekan menyeluruh terkait distribusi, apakah terjadi hambatan logistik, penimbunan, atau masalah lainnya yang menyebabkan stok macet. Warga berharap langkah konkret segera diambil agar pasokan gas melon bisa kembali normal, harga bisa kembali ke HET yang ditetapkan, dan aktivitas dapur warga Maniis bisa kembali berdenyut seperti sedia kala.
Sampai saat ini, kelangkaan dan kenaikan harga masih menjadi masalah pelik yang menuntut solusi cepat, sebelum keresahan ini berubah menjadi ketidakpuasan yang lebih luas di tengah masyarakat.*

Tinggalkan Balasan