Jalan Alternatif Sagalaherang, Subang, yang berkelok dan rimbun menjadi saksi bisu berakhirnya pelarian Yogi Iskandar alias Boneng. Pada Senin (6/4/2026), pria 36 tahun itu tak lagi bisa bersembunyi. Tim gabungan Satreskrim Polres Purwakarta bersama Jatanras Polda Jawa Barat menyergapnya sebelum ia sempat melangkah lebih jauh.
Yogi adalah buron utama di balik tragedi berdarah yang menewaskan Dadang (58) di Desa Kertamukti, Campaka. Dadang, sang shohibul hajat yang tengah menikahkan putrinya, meregang nyawa karena teguh menolak permintaan jatah minuman keras. Kabar tertangkapnya pelaku ini seketika membasuh luka kolektif warga, memancing apresiasi dari puncak menara moral kabupaten: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purwakarta.
Ketua MUI Kabupaten Purwakarta, KH John Dien, tak menutupi rasa syukurnya atas langkah taktis kepolisian. Bagi kiai karismatik ini, penangkapan Yogi bukan sekadar prosedur hukum biasa. Ini adalah pernyataan perang terhadap premanisme Purwakarta yang mulai berani mengusik ruang-ruang sakral warga.
“Aksi kriminal sekelompok preman yang membuat Bapak Dadang meninggal dunia harus diusut hingga tuntas,” tegas KH John Dien pada Selasa (7/4/2026). Ia duduk tegak, suaranya berat penuh penekanan. Baginya, tindakan para preman itu telah melangkahi nilai-nilai moral, Pancasila, dan ajaran agama yang paling mendasar.
MUI Purwakarta secara resmi memberikan mandat dukungan penuh bagi polisi untuk menyisir sisa-sisa pelaku yang masih berkeliaran. KH John Dien menilai keresahan masyarakat sudah berada di titik nadir. Ia merindukan kehadiran petugas di tengah pemukiman, bukan sekadar sebagai penjaga, melainkan sebagai pendengar aspirasi warga yang terhimpit aksi pemalakan.
Kiai John juga melangitkan doa untuk almarhum Dadang—ayah yang gugur menjaga kehormatan hajatan anaknya. “Kami mendoakan almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga diberikan kekuatan,” ucapnya lirih. Dukungan dari MUI Purwakarta ini menjadi bahan bakar bagi polisi untuk terus “membersihkan” wilayah Purwasuka dari residu pengeroyokan dan kekerasan.
Di akhir pernyataannya, sang kiai menitipkan pesan bagi warga di pelosok desa hingga sudut kota. Ia mengajak masyarakat tidak lagi bungkam saat mencium aroma vandalisme atau ancaman preman kampung. Sinergi antara warga dan Polres Purwakarta dianggap sebagai satu-satunya resep mujarab untuk mengembalikan ketenangan yang sempat terkoyak.
“Segera lapor ke kantor polisi terdekat jika melihat aksi premanisme,” pungkasnya. Kini, bola panas ada di tangan penyidik untuk membuktikan bahwa tak ada tempat bagi kekerasan di tanah Purwakarta. Yogi Boneng kini mendekam di sel, menunggu pertanggungjawaban atas bambu yang ia ayunkan di tengah pesta pernikahan yang malang itu.*


Tinggalkan Balasan